“Si Ter”
Adakah dari kita yang selama hidupnya tidak pernah bertengkar entah itu dengan keluarga, teman, rekan kerja, sahabat, bahkan sesama rekan sepelayanan.
Rasanya tidak ada orang yang pernah tidak mengalami masalah ini entah suka atau tidak. Kita bahkan sering mempertengkarkan masalah yang tidak penting tapi ada rasa ketersinggungan didalamnya. Bahkan pertengkaran yang paling heboh justru terjadi didalam Gereja atau dalam keluarga – keluarga Kristen. Ditempat yang seharusnya menjadi tempat damai sejahtera. Seberapa sering justru kita adalah pemicu pertengkaran itu, ketika pendapat atau ide kita tidak diterima, atau kita merasa tidak dihargai oleh orang lain. Dalam diri kita selalu ada rasa ingin menjadi yang “TER” dalam segala hal. Siapa yang mau dianggap kurang, baik itu kurang berpengetahuan, kurang aktif, kurang inisiatif atau kurang-kurang lainnya. Ketika kita berada di rumah seberapa sering kita sebagai orangtua merasa sebagai yang paling berpengalaman sehingga perkataan kita harus didengar oleh semua orang?Kita adalah yang paling tahu tentang segalanya. Ketika dikantor kita selalu merasa yang terhebat dan tahu tentang banyak hal dan tak pernah salah. Digereja seberapa penting kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling banyak berjasa atau paling banyak berperan sehingga saya harus dihormati oleh yang lain. Pernahkah kita sadari sebagian besar dari pertengkaran yang terjadi disebabkan oleh kata yang bernama “Harga diri dan keegoisan”. Ketika harga diri saya tidak dinomor satukan oleh orang yang ada disekitar saya. Tunggu dulu, anda bukan sahabat saya, atau dengan kata lainnya anda sedang menantang saya. Ketika harga diri kita dipertaruhkan kita pasti bereaksi dengan keras dan berusaha untuk menjatuhkan orang yang menyinggung kita. Bagaimana pertengkaran tidak menjadi hal yang lumrah saat ini, ketika semua orang mau dihormati, dihargai, didengar, dianggap paling benar. Apa yang akan terjadi ketika semua orang mau idenya tau gagasannya yang dipakai, semua orang mau dihormati, kalau semua orang mau dihormati, pertanyaannya siapa yang menghormati? Seberapa sering pertengkaran dalam keluarga kita terjadi Karena kita selalu merasa sebagai yang tertua kita menuntut untuk didengarkan dan hormati. Sebenarnya banyak pertengkaran dapat dihindari ketika kita bisa belajar saling menghargai dan menganggap bahwa kitalah yang “TER”. Marilah kita mencontoh Yesus meskipun Dia dihina Ia tidak pernah merasa tersinggung tapi selalu berserah kepada Allah dan rendah hati. Ia tidak pernah merasa sebagai yang “TER” meskipun Dia adalah yang “TER”. Dia selalu membawa dan menciptakan damai dimana terjadi pertengkaran dan keributan dengan belas kasih, ramah, dan tidak pernah memihak siapapun juga. Jadilah pembawa damai, bukan sumber pertengkaran.

